Menjadi pribadi yang sukses adalah dambaan semua manusia terlebih jika
kesuksesan itu bermanfaat bagi sesama . tetapi angan dan impian yang
tinggi tak perna kita imbangi dengan usaha yang keras . berharap hasil
yang maksimal tentunya harus di sertai dengan usaha yang maksimal pula .
Tampilkan postingan dengan label Entrepreneurship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Entrepreneurship. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 Juli 2012
Kamis, 31 Mei 2012
S I D I K ( Saya Ingin wujuDkan Impian Kecil)
Semangat
Bapak sidik yang begitu kuat meskipun beliau menyandang tuna daksa .
semangatnya melebihih mereka yang normal . dengan sepeda motor yang
sudah di modifikasi beliau mengantarkan krupuk singkong hasil dari
usahanya ke koperasi-koperasi.
Sabtu, 16 Juli 2011
IBU
Sejenak ku merenung tentang arti hidup bagiku
Yang indah dan penuh kasih sayang semua ku dapat darimu
Penuh syukur ku haturkan atas jasa-jasamu yang tak perna menyerah meraih anugrah
Tak pernah berhenti meraih mimpi .
Rabu, 27 April 2011
ANAK KECIL ITU "ADITYA"
Pagi yang indah untuk mewujudkan semua impian semalam yang blum sempat terbeli,sehabis sholat shubuh ku ambil remot tv dengan tujuan meliat liputan olah raga semalam yang gak sempat aku tonton.
Rabu, 13 April 2011
BERANI, SEPERTI ELANG
Semua orang tahu bahwa elang adalah burung yang mampu terbang paling tinggi di dunia ini. Elang bahkan membuat sarang di ketinggian. Padahal semua tahu bahwa di ketinggian, angin selalu bertiup sangat kencang.
JADI GELAS ATAU DANAU
| Ilustrasi Danau |
Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah penuh syukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh.
"Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan pada segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. "Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku."
Sang Guru membawa muridnya ke sebuah danau berada tak jauh dari mereka.
"Ambil garam yang tersisa, bila perlu habiskan semua dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk diduduki, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya.
Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasa kah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.
Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.
"Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah di kadar oleh Allah, dan selalu sesuai untuk dirimu. Jangan selalu merasa paling susah, paling menderita sendiri. Seperti garam tadi, jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Muridku, setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid hanya terdiam, dan terus menunduk mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu seperti danau."
Sang murid merasakan satu perasaan yang tak lagi bisa diceritakan.
NASEHAT IKAN
Pada suatu hari, ada seorang nelayan yang sedang menjaring ikan,sambil menunggu jaringnya penuh,nelayan itu memancing untuk menghilangkan jenuh. tiba-tiba kail pancingnya terasa ditarik oleh kekuatan yang besar,tentu saja nelayan itu beranggapan ada ikan besar yang memakan umpanya ,terjadilah adu kekuatan antara nelayan dan ikan yang terjerat….tapiii…ternyata setelah nelayan itu memenangkan pertarungan nelayan itu kecewa,karena ikan yang memakan umpanya hanyalah ikan kecil,bahkan tak melebihi kepalan tangan si nelayan,yang membuatnya sangat kuat menarik pancing adalah arus lautan.
Langganan:
Postingan (Atom)


